Senin, 13 Januari 2014

Bye Bye


Sore ini, D.O sudah terlihat rapi. Ia ada janji dengan Bae Eun Jung, untuk pergi ke toko buku. Ia sudah memakai jam tangan hadiah dari Eun Jung setahun lalu. Setelah ia mengambil kunci mobil, ia pun beranjak.
***
Eun Jung menunggu D.O di depan rumahnya. Ia juga sudah berdandan. Pakaiannya seperti orang yang akan pergi pesta. Sudah warnanya mencolok, rok nya pendek lagi. 5 cm diatas lutut.
Yang ditunggu pun tiba. D.O menghentikan mobil gallardonya tepat di depan rumah EunJung. D.O pun turun dari mobil. Ia terkejut begitu melihat style pakaian EunJung. Kacamata hitamnya pun ia lepas.
“ kamu itu mau ke toko buku apa ke pesta sih?? Jelek banget.” Ejek D.O sambil terkekeh. eunJung tersinggung. Ia menghampiri D.O, lalu tanpa basa-basi lagi menampar pipi tembem itu.
PLAK! “ hss, sakit!” desis dan jerit D.O. tangan kananya memegangi pipi kirinya.
“ makanya, jaga ucapanmu. Aku ini mau ke toko buku, bukan mau ke pesta.” Omel EunJung kesal.
“ kalau mau ke toko buku, pakailah pakaian yang sopan. Aku kan sudah memberitahumu dari dulu. Kalau kamu berpakaian seperti ini, kamu akan di bilang norak.” Ujar D.O sambil memandangi Eun Jung dari bawah ke atas.
Eun Jung kembali tersinggung. Apa lagi ketika mendengar kata norak dari mulut sahabatnya itu. tanpa banyak kata lagi, ia berjalan menghampiri D.O, lalu kembali menampar. PLAK! Setelah itu ia berbalik untuk berjalan memasuki rumahnya. D.O tertegun, ia beralih memegangi pipi kanannya.
(SKIP)
10 menit berlalu. Akhirnya EunJung pun keluar dari dalam rumah. Pakaiannya berubah. Kini dengan memakai celana panjang berwarna hitam polos, lalu menggunakan kaos berwarna putih pendek berbalut jaket jas berwarna hitam. Dan di padukan dengan topi yang juga berwarna hitam bertuliskan huruf E. sekaligus rambut yang tadi terurai, kini diikat menjadi satu. Sepatunya yang tadi highells, kini menjadi sepatu cats hitam.
D.O takjub melihat perubahan itu. eun jung malah terlihat cantik. “ wow, keren.” Pujinya, Eunjung hanya memainkan mulutnya. Lalu ia pun berlalu untuk menghampiri kursi mobil sebelah kanan.
“ ayo cepat. Aku setelah ini masih ada acara.” Ujar gadis ini sambil membuka pintu.
D.O berbalik. lalu ia menghampiri kursi pengemudi di sebelah kiri. Sebelum menancap gas, D.O berujar.
“ tumben terlihat cantik. Aku suka dengan Eun Jung seperti ini.”
Gadis itu hanya menoleh. Lalu kembali menghadap depan. D.O sudah mengerti artinya. Pasti ucapan terima kasih. Tanpa banyak bicara lagi, ia pun menginjak gas.
***
CKIIT! Mobil berhenti mendadak. Di karenakan ada seseorang pengendara sepeda motor yang menghadang mereka di tengah jalan. Orang itu merentangkan kedua tangan dengan berani. Padahal D.O tadi membawa mobil dengan kecepatan 95 km/jam. Hampir saja D.O dan EunJung meloncat dari mobil.
EunJung tertegun melihat orang itu. ‘ aku seperti kenal motor itu. bukankah dia… ‘. “ Park Sung Gyu??”
D.O terkejut, ia menoleh. Nama itu tidak aneh di telinganya. “ Sung Gyu mantanmu itu??”
Eun Jung hanya mengangguk. Pengendara sepeda motor itu berjalan menghampiri mereka. “ D.O, dalam hitungan ketiga kamu harus jalan. Aku dalam bahaya sekarang.” Ujar EunJung sembari terus memperhatikan orang itu.
“ ok. Cepat hitung.” Jawab D.O sambil bersiap. Kedua tangannya memegang setir.
“ baiklah. Satu… dua… ti..ga!” BRUM!! D.O menancapkan gas sekuat tenaga. Akhirnya mereka bisa terbebas dari pengendara sepeda motor itu. namun, orang itu sedikit menabrak spion bagian kiri mobil. Sehingga orang itu terjatuh perlahan.
Eun Jung melihat kecepatan awal mobil D.O, ia terkejut, karena 65 km/jam. Sangat professional sebagai pembalap. Gadis ini hanya tersenyum tipis, lalu menoleh keluar jendela mobil.
“ kenapa harus bertemu dia lagi sih?” celetuk D.O sambil menghadap depan. Meskipun kecepatan yang ia pakai melebihi batas, tapi ia santai saja saat mengendarai. Seperti tidak ada beban.
“ yah, itu lah takdir.” Jawab Eun Jung tanpa menoleh. Namun D.O bisa mendengarnya.
“ kalau itu takdir, kenapa harus saat bersama Eun Jung. Itu bencana bagiku.” Ujar D.O lagi.
“ hm, dan kenapa juga ketika aku sudah berhasil melupakannya. Tidak adil.” Balas Eun Jung. Tapi sepertinya kini dengan perasaan sedih. Buktinya kepalanya tertunduk.
“ oh ya, buku apa yang akan kamu beli??” Tanya D.O dengan mengalihkan topic pembicaraan. Ia berusaha mentralkan suasana dalam mobilnya, yang berpotensi besar menumbuhkan emosi.
“ nanti saja. Kamu akan tau sendiri.” Jawab EunJung yang masih dengan nada sedih. D.O terdiam sesaat. Ia melirik sejenak gadis yang ada di sampingnya itu.
“ baiklah. Asalkan itu bisa bermanfaat bagi kamu.” Celetuk D.O akhirnya. Karena kecepatan 90 terlalu lambat, ia pun menambah menjadi 100 km/jam. Namun Eun Jung tidak berkutik. Ia membiarkan saja D.O menambah kecepatan sampai berapapun. Karena saat ini dia kembali risau.
***
D.O dan Eun Jung berjalan beriringan memasuki area toko buku kota Seoul. Ekspresi Eun Jung berubah semangat. Ia berjalan terlalu cepat untuk meninggalkan tempat parkir. Sampai-sampai D.O bolak-balik berteriak.
“ Eun Jung! Jangan cepat-cepat. Banyak kendaraan nih!” teriaknya sembari berlari kecil untuk menghampiri Eun Jung.
“ ah, udah pingin beli nih.” Ujar Eun Jung yang juga berlari kecil.
Tiba-tiba…
“ hey Eun Jung, berhenti!!” teriaknya sekuat tenaga. Ia berteriak seperti itu karena ada sebuah sepeda motor yang melaju cepat menghampiri Eun Jung.
Tapi dalam keadaan darurat ini, gadis itu tidak menggubris teriakkan D.O ia malah terus berlari tanpa menoleh ke arah suara sepeda berada. D.O membulatkan tekadnya. Latihan basket tiap harinya akan dia gunakan untuk menolong Eun Jung.  Segera ia berlari kencang. Tidak peduli dengan berapa kecepatan motor itu, ia terus berlari dan akhirnya.. ia berhasil menarik lengan Eun Jung. Tak di pungkiri mereka terjatuh di trotoar. Posisi mereka bersampingan. Dan untungnya mereka tidak membentur apapun. Hanya siku D.O yang lecet dan itu Cuma sedikit tidak berasa.
“ kamu tidak apa??” Tanya D.O sambil berusaha duduk. Ia juga membantu Eun Jung untuk duduk.
“ iya. Tapi tangan kamu??” Eun Jung melihat siku D.O yang mengeluarkan darah.
“ jangan di pikirkan. Sekarang kita masuk saja. Ayo.” D.O bangkit. Ia mengulurkan tangannya untuk Eun Jung. Dan mereka pun berdiri sempurna di pinggir jalan parkir tersebut.
“ aku tahu siapa dia.” Celetuk Eun Jung ketika mereka berjalan mendekati bangunan toko.
“ ya, aku juga tau.” Jawab D.O sambil terus menggandeng Eun Jung memasuki gedung.
(SKIP)
Keduanya keluar dari toko buku itu. eun Jung sudah mendapatkan buku yang ia inginkan. Buku itu berjudul, Good Friend. Yang sangat ia cari, karena berisi tentang 10 cerita persahabatan di seluruh dunia. Termasuk juga Korea Selatan. Dengan begitu, buku yang ia beli seharga 3000 won itu ia peluk seerat mungkin. Tidak ingin ia lepaskan. D.O menoleh padanya.
“ kamu senang??” tanyanya sambil tersenyum. Ia memperhatikan senyuman Eun Jung yang tengah memeluk tas plastic berisi buku itu.
“ tentu. Untungnya masih ada satu. Hm, terima kasih ya.” Jawab Eun Jung sembari menoleh.
“ terima kasih?? Buat apa? Kamu kan, yang beli sendiri. Aku nggak ikut andil sama sekali.” Celetuk D.O terkejut.
“ ya sih, tapi, kamu itu sudah menyelamatkanku. Sampai-sampai tangan kamu terluka.” Ujar Eun Jung sembari meraih tangan kanan D.O. ia melihat bagian siku yang terdapat lecet.
D.O menjauhkan tangan Eun Jung. “ tidak apa. Ini tidak sakit.”
“ bagaimana bisa tidak sakit?? Kamu kan baru keluar dari rumah sakit. Aku jadi bersalah karena terus membuat kamu terluka seperti ini.” Eun Jung menunduk.
D.O kembali tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Eun Jung. “ sudah, jangan di ulang lagi. Sekarang kita pulang, katanya ada acara.” D.O pun menggandeng tangan gadis itu. Namun tiba-tiba…
“ Eun Jung, kita bicara sebentar.” Si pengendara motor itu mencoba meraih tangan Eun Jung. Tapi, dia gagal karena di tepis kasar oleh D.O. dan mereka pun saling beradu pandang.
“ jangan sentuh dia.” Ujar D.O dingin. Ia menarik Eun Jung untuk berdiri dibelakangnya.
“ memang apa urusanmu? Aku hanya ingin bicara sebentar dengan dia.”
D.O tersenyum sinis. “ apa urusanku?? Kau Tanya, apa urusanku?? Huh! Coba aku Tanya, bukankah tadi kau yang mencoba membunuh Eun Jung??!” bentaknya kasar.
“ kau itu bicara apa?? Aku mana mungkin seperti itu pada pacarku sendiri.”
“ ooh, begitu. Jadi, apa orang yang kita lihat itu salah, Eun Jung??” D.O menoleh pada Eun Jung. Ekspresinya tidak sedingin ekspresi dirinya pada Park Sung Gyu.
“ ti-ti-tidak.” Jawab Eun Jung dengan hati-hati. Ia menunduk sembari mendekatkan dirinya pada D.O.
“ kau dengar sendiri bukan.” BUGH!! Sung Gyu meninju pipi kanan D.O saat D.O menoleh padanya. D.O kembali menoleh pada Eun Jung karena pukulan tadi. Namun begitu ia tersenyum melihat wajah gadis dibelakangnya ini. Tidak ia sadari, darah mengalir dari ujung bibir kanannya.
“ kamu tidak apa??” Tanya Eun Jung pelan. D.O hanya menggeleng. Lalu ia melepaskan genggamannya dari gadis ini.
BUGH!! Kini berganti Sung Gyu yang mendapat bogem mentah si kidal D.O. pukulan itu sangat kuat, sehingga Sung Gyu terpelanting agak jauh.
“ bicaralah baik-baik padaku. Aku tidak menyukai kekerasan, termasuk saat ada di hadapan Eun Jung.” Ujar D.O sembari berjalan menghampiri Sung Gyu. Ia mengusap darah itu. Lalu setelah itu, ia mengulurkan tangan kirinya.
“ baiklah, tapi lain kali. Aku tidak butuh bantuanmu.” Sung Gyu menepis jauh tangan D.O. ia bangkit dengan sendirinya. Kedua matanya menatap D.O penuh rasa permusuhan.
“ lalu apa maumu??” Tanya D.O yang berusaha sabar.
“ aku ingin Eun Jung kembali padaku.” Jawab Sung Gyu, ia sudah bersiap dengan pukulan terbaiknya menggunakan tangan kanan.
“ tidak semudah itu. Dia sudah melupakanmu. Dia bukan apa-apa lagi untukmu. Karena ada aku.” D.O juga sudah bersiap dengan tangan kirinya. Bahkan mungkin lebih kuat dari Sung Gyu.
“ apa seperti itu?? Huh?! Aku tidak habis pikir dengan selera Eun Jung yang seburuk ini.” Ejek Sung Gyu dengan senyum sinisnya.
“ aa… jika itu buruk bagimu, berarti baik bagi Eun Jung. Bukankah pendapat laki-laki dan perempuan itu berbeda. Aku suka dengan gayamu.” D.O tersenyum manis. Meski sebenarnya ia tidak rela tersenyum seperti ini.
“ lama-lama kau itu menyebalkan.” Sung Gyu pun mengayunkan pukulannya. Hanya sesaat, namun tidak mengenai pipi D.O. malah yang lebih parah, pukulan itu mengenai jam tangan D.O yang sebagian besar terbuat dari kaca. Akhirnya jam itu pecah. Pergelangan tangan mereka terluka karena terkena serpihan kaca itu. Spontan semuanya gelap.
***
Eun Jung cemas harap menunggu keputusan dokter. Buku itu tetap digenggamannya, dan tangannya yang berlumuran darah itu mengotori tas plastic yang membungkus rapi buku yang baru saja ia beli. Ia sudah mendonorkan darah untuk D.O. Namun berbeda dengan Sunggyu, golongan darahnya tidak cocok dengan si pengendara motor itu. Sehingga Sung Gyu mendapatkannya dari rumah sakit.
CKREK!! Pintu ruang UGD terbuka. Keluarlah 2 sosok orang yang begitu diharapkan Eun Jung sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan seorang dokter dan seorang suster. Cepat-cepat ia menghampiri dua petugas medis itu.
“ bagaimana dok, keadaan teman-teman saya??” tanyanya panic. Ia bergantian melihat wajah suster dan dokter itu.
“ mereka baik-baik saja. Tapi mereka belum sadar. Karena tadi, darah mereka terlalu banyak yang keluar.” Jawab dokter laki-laki berkacamata itu sambil menepuk pundak Eun Jung.
“ boleh saya melihat mereka, dok??” Tanya Eun Jung lagi. Sekarang ia sudah sedikit lega.
“ iya. Silakan.”
“ terima kasih dok.” Eun Jung membungkuk sejenak, lalu setelah itu ia berjalan memasuki ruang UGD. Pintu masih terbuka, karena memang disengaja oleh suster yang bernama Hyun Ji Kyung itu.
Ia melihat dua sosok manusia tengah berbaring di dua ranjang berbeda. Pergelangan tangan kiri mereka sudah terhubung dengan kabel infuse. Selain itu, mereka sudah diberi masker oksigen.
Eun Jung berjalan ke tengah ruangan. Ada jalan yang memisahkan ranjang D.O dan Sung Gyu. Ia melihat secara bergantian wajah mereka yang baru saja selamat dari kematian. Namun ia lebih memperhatikan D.O. air matanya sudah berada di pelupuk. Bagaimana tidak, D.O baru saja keluar dari rumah sakit. Dan sekarang kembali di rawat. Lagi-lagi karena Sung Gyu. Ia salut dengan sosok ini. Akhirnya air mata itu terjatuh juga, mengenai telapak tangan kiri D.O. tak berapa lama, D.O tersadar. Ia menoleh pada Eun Jung. Saat itu, gadis yang ada di sampingnya ini tidak mengetahui. Karena Eun Jung menangis dengan kepala tertunduk, dan matanya pun terpejam. Pelan D.O melepas masker oksigennya.
“ hey, kamu terlihat jelek.” Celetuknya.
Eun Jung mendengar suara itu. Ia perlahan membuka matanya, lalu menoleh pada asal suara itu. Senyum pun tersungging dari wajah manisnya itu. “ kamu sudah sadar??”
“ belum, aku masih mengantuk.” Jawab D.O sambil tersenyum.
Eun Jung menghapus air matanya. “ jangan bercanda, ah.”
“ siapa yang bercanda?? Aku memang masih mengantuk. Tapi gara-gara tanganku basah oleh air matamu, makanya aku bangun. Masa’, saengku nangis, aku enak-enakkan tidur. Kan nggak adil.” Jawab D.O sambil berusaha duduk. Eun Jung membantunya tanpa ia minta.
“ saeng?? Sebutan yang bagus buat aku. Jadi, apa mulai saat ini aku panggil kamu oppa??” Tanya Eun Jung sembari mengedipkan sebelah matanya yang masih basah itu.
“ terserah saja. Asalkan tidak memakai kedipan itu. Nanti lengket. Hehehe.” Canda D.O sambil terkekeh.
Eun Jung ikut tersenyum. Setelah itu mereka menoleh pada Sung Gyu.
“ sepertinya dia masih ingin tidur.” Celetuk D.O pelan. Eun Jung hanya mengangguk tanpa menoleh.
***
Seminggu lalu…
D.O tidak bisa berkutik dengan Eun Jung. Ia pasrah saja harus menghadapi anak karate ini. Mereka bertarung di lapangan basket sekolah. Eun Jung selalu menyerang D.O tanpa jeda. Ia tidak peduli dengan wajah D.O yang sudah memar tak karuan itu. Ia tetap kesal dengan ucapan D.O yang selalu saja menyindirnya dengan Sung Gyu.
Tidak ada yang berani menghalau ke-agresif-an Eun Jung. Para guru telah angkat tangan. EXO Kingka tidak ada yang berani melawan gadis itu. Sehingga jalan satu-satunya adalah menelpon polisi juga ambulans. Kenapa ambulans?? Karena D.O telah pingsan karena pukulan bertubi-tubi Eun Jung.
Wuing! Wuing! Dua sirine berbunyi. Dua mobil berbeda profesi itu berhenti asal-asalan di tengah lapangan yang menjadi sorotan public masyarakat Hazao. Setelah itu, dua orang polisi dan 4 orang petugas medis keluar dari masing-masing mobil. 2 petugas medis telah membawa tandu untuk membopong D.O memasuki mobil ambulans. Lalu salah seorang dari dua polisi telah membawa borgol, untuk menahan tangan Eun Jung yang tidak bisa diam itu.
(SKIP)
D.O perlahan membuka matanya. Suasana ini asing baginya. Tidak berselang lama, ia merasakan sesuatu pada tangan kirinya. Karena penasaran, ia menoleh. Seorang gadis tengah menggenggam erat tangannya. Gadis itu tak lain adalah Eun Jung. Pelan ia membuka masker oksigen.
“ kenapa menangis??” tanyanya lirih.
Gadis itu menoleh. Ia melepaskan tangan D.O lalu menghapus air matanya. “ menurut kamu apa??” tanyanya balik.
“ aku tidak tau, maka dari itu aku bertanya.” Jawab D.O polos.
“ dasar bodoh, tentu saja menangis karenamu.” Celetuk Eun Jung sembari memukul pelan lengan kiri D.O.
“ oh, eh.” D.O tersenyum lugu. Ia baru menyadari hal itu.
“ mianhae.”
“ buat apa??” Tanya D.O kebingungan. Ia pun berusaha duduk.
“ kejadian tadi siang.” Jawab Eun Jung. Ia kembali menitikkan air matanya. Kepalanya tertunduk sembari melihat 2 ekor semut hitam gotong royong mengangkat butiran plastic kecil.
“ ooh. Tidak usah. Kamu kan tidak punya salah apapun kepadaku.”
Eun Jung terkejut. Ia mendongak. “ tapi..”
“ sudah. Tidak apa. Anggap saja bukan kamu yang membuatku begini. Aku tidak apa koq. Santai saja.” Sahut D.O sembari tersenyum.
Tidak dengan Eun Jung. Ia bangkit. Lalu menatap kedua mata D.O lekat. “ sebagai permintaan maafku, aku akan pergi dari hidupmu.” Ujarnya.
D.O terkejut. “ apa maksudnya??”
Eun Jung tersenyum simpul. “ hanya sebentar. Aku ingin menenangkan diri dulu.”
“ oh. Baiklah.” Jawab D.O akhirnya. Dengan begitu, Eun Jung beranjak.
“ selamat tinggal.” Celetuk D.O agak keras. Eun Jung mendengarnya. Gadis itu hanya tersenyum, lalu membuka pintu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar