Sore ini, D.O sudah terlihat rapi. Ia ada janji dengan Bae
Eun Jung, untuk pergi ke toko buku. Ia sudah memakai jam tangan hadiah dari Eun
Jung setahun lalu. Setelah ia mengambil kunci mobil, ia pun beranjak.
Eun Jung menunggu D.O di depan rumahnya. Ia juga sudah
berdandan. Pakaiannya seperti orang yang akan pergi pesta. Sudah warnanya
mencolok, rok nya pendek lagi. 5 cm diatas lutut.
Yang ditunggu pun tiba. D.O menghentikan mobil gallardonya
tepat di depan rumah EunJung. D.O pun turun dari mobil. Ia terkejut begitu
melihat style pakaian EunJung. Kacamata hitamnya pun ia lepas.
“ kamu itu mau ke toko buku apa ke pesta sih?? Jelek
banget.” Ejek D.O sambil terkekeh. eunJung tersinggung. Ia menghampiri D.O,
lalu tanpa basa-basi lagi menampar pipi tembem itu.
PLAK! “ hss, sakit!” desis dan jerit D.O. tangan kananya
memegangi pipi kirinya.
“ makanya, jaga ucapanmu. Aku ini mau ke toko buku, bukan
mau ke pesta.” Omel EunJung kesal.
“ kalau mau ke toko buku, pakailah pakaian yang sopan. Aku
kan sudah memberitahumu dari dulu. Kalau kamu berpakaian seperti ini, kamu akan
di bilang norak.” Ujar D.O sambil memandangi Eun Jung dari bawah ke atas.
Eun Jung kembali tersinggung. Apa lagi ketika mendengar
kata norak dari mulut sahabatnya itu. tanpa banyak kata lagi, ia berjalan
menghampiri D.O, lalu kembali menampar. PLAK! Setelah itu ia berbalik untuk
berjalan memasuki rumahnya. D.O tertegun, ia beralih memegangi pipi kanannya.
(SKIP)
10 menit berlalu. Akhirnya EunJung pun keluar dari dalam
rumah. Pakaiannya berubah. Kini dengan memakai celana panjang berwarna hitam
polos, lalu menggunakan kaos berwarna putih pendek berbalut jaket jas berwarna
hitam. Dan di padukan dengan topi yang juga berwarna hitam bertuliskan huruf E.
sekaligus rambut yang tadi terurai, kini diikat menjadi satu. Sepatunya yang
tadi highells, kini menjadi sepatu cats hitam.
D.O takjub melihat perubahan itu. eun jung malah terlihat
cantik. “ wow, keren.” Pujinya, Eunjung hanya memainkan mulutnya. Lalu ia pun
berlalu untuk menghampiri kursi mobil sebelah kanan.
“ ayo cepat. Aku setelah ini masih ada acara.” Ujar gadis
ini sambil membuka pintu.
D.O berbalik. lalu ia menghampiri kursi pengemudi di
sebelah kiri. Sebelum menancap gas, D.O berujar.
“ tumben terlihat cantik. Aku suka dengan Eun Jung seperti
ini.”
Gadis itu hanya menoleh. Lalu kembali menghadap depan. D.O
sudah mengerti artinya. Pasti ucapan terima kasih. Tanpa banyak bicara lagi, ia
pun menginjak gas.
***
CKIIT! Mobil berhenti mendadak. Di karenakan ada seseorang
pengendara sepeda motor yang menghadang mereka di tengah jalan. Orang itu
merentangkan kedua tangan dengan berani. Padahal D.O tadi membawa mobil dengan
kecepatan 95 km/jam. Hampir saja D.O dan EunJung meloncat dari mobil.
EunJung tertegun melihat orang itu. ‘ aku seperti kenal
motor itu. bukankah dia… ‘. “ Park Sung Gyu??”
D.O terkejut, ia menoleh. Nama itu tidak aneh di
telinganya. “ Sung Gyu mantanmu itu??”
Eun Jung hanya mengangguk. Pengendara sepeda motor itu
berjalan menghampiri mereka. “ D.O, dalam hitungan ketiga kamu harus jalan. Aku
dalam bahaya sekarang.” Ujar EunJung sembari terus memperhatikan orang itu.
“ ok. Cepat hitung.” Jawab D.O sambil bersiap. Kedua
tangannya memegang setir.
“ baiklah. Satu… dua… ti..ga!” BRUM!! D.O menancapkan gas
sekuat tenaga. Akhirnya mereka bisa terbebas dari pengendara sepeda motor itu.
namun, orang itu sedikit menabrak spion bagian kiri mobil. Sehingga orang itu
terjatuh perlahan.
Eun Jung melihat kecepatan awal mobil D.O, ia terkejut,
karena 65 km/jam. Sangat professional sebagai pembalap. Gadis ini hanya
tersenyum tipis, lalu menoleh keluar jendela mobil.
“ kenapa harus bertemu dia lagi sih?” celetuk D.O sambil
menghadap depan. Meskipun kecepatan yang ia pakai melebihi batas, tapi ia santai
saja saat mengendarai. Seperti tidak ada beban.
“ yah, itu lah takdir.” Jawab Eun Jung tanpa menoleh. Namun
D.O bisa mendengarnya.
“ kalau itu takdir, kenapa harus saat bersama Eun Jung. Itu
bencana bagiku.” Ujar D.O lagi.
“ hm, dan kenapa juga ketika aku sudah berhasil
melupakannya. Tidak adil.” Balas Eun Jung. Tapi sepertinya kini dengan perasaan
sedih. Buktinya kepalanya tertunduk.
“ oh ya, buku apa yang akan kamu beli??” Tanya D.O dengan
mengalihkan topic pembicaraan. Ia berusaha mentralkan suasana dalam mobilnya,
yang berpotensi besar menumbuhkan emosi.
“ nanti saja. Kamu akan tau sendiri.” Jawab EunJung yang
masih dengan nada sedih. D.O terdiam sesaat. Ia melirik sejenak gadis yang ada
di sampingnya itu.
“ baiklah. Asalkan itu bisa bermanfaat bagi kamu.” Celetuk
D.O akhirnya. Karena kecepatan 90 terlalu lambat, ia pun menambah menjadi 100
km/jam. Namun Eun Jung tidak berkutik. Ia membiarkan saja D.O menambah
kecepatan sampai berapapun. Karena saat ini dia kembali risau.
***
D.O dan Eun Jung berjalan beriringan memasuki area toko
buku kota Seoul. Ekspresi Eun Jung berubah semangat. Ia berjalan terlalu cepat
untuk meninggalkan tempat parkir. Sampai-sampai D.O bolak-balik berteriak.
“ Eun Jung! Jangan cepat-cepat. Banyak kendaraan nih!”
teriaknya sembari berlari kecil untuk menghampiri Eun Jung.
“ ah, udah pingin beli nih.” Ujar Eun Jung yang juga
berlari kecil.
Tiba-tiba…
“ hey Eun Jung, berhenti!!” teriaknya sekuat tenaga. Ia
berteriak seperti itu karena ada sebuah sepeda motor yang melaju cepat
menghampiri Eun Jung.
Tapi dalam keadaan darurat ini, gadis itu tidak menggubris
teriakkan D.O ia malah terus berlari tanpa menoleh ke arah suara sepeda berada.
D.O membulatkan tekadnya. Latihan basket tiap harinya akan dia gunakan untuk
menolong Eun Jung. Segera ia berlari
kencang. Tidak peduli dengan berapa kecepatan motor itu, ia terus berlari dan
akhirnya.. ia berhasil menarik lengan Eun Jung. Tak di pungkiri mereka terjatuh
di trotoar. Posisi mereka bersampingan. Dan untungnya mereka tidak membentur
apapun. Hanya siku D.O yang lecet dan itu Cuma sedikit tidak berasa.
“ kamu tidak apa??” Tanya D.O sambil berusaha duduk. Ia
juga membantu Eun Jung untuk duduk.
“ iya. Tapi tangan kamu??” Eun Jung melihat siku D.O yang
mengeluarkan darah.
“ jangan di pikirkan. Sekarang kita masuk saja. Ayo.” D.O
bangkit. Ia mengulurkan tangannya untuk Eun Jung. Dan mereka pun berdiri
sempurna di pinggir jalan parkir tersebut.
“ aku tahu siapa dia.” Celetuk Eun Jung ketika mereka
berjalan mendekati bangunan toko.
“ ya, aku juga tau.” Jawab D.O sambil terus menggandeng Eun
Jung memasuki gedung.
(SKIP)
Keduanya keluar dari toko buku itu. eun Jung sudah
mendapatkan buku yang ia inginkan. Buku itu berjudul, Good Friend. Yang sangat
ia cari, karena berisi tentang 10 cerita persahabatan di seluruh dunia.
Termasuk juga Korea Selatan. Dengan begitu, buku yang ia beli seharga 3000 won
itu ia peluk seerat mungkin. Tidak ingin ia lepaskan. D.O menoleh padanya.
“ kamu senang??” tanyanya sambil tersenyum. Ia
memperhatikan senyuman Eun Jung yang tengah memeluk tas plastic berisi buku
itu.
“ tentu. Untungnya masih ada satu. Hm, terima kasih ya.”
Jawab Eun Jung sembari menoleh.
“ terima kasih?? Buat apa? Kamu kan, yang beli sendiri. Aku
nggak ikut andil sama sekali.” Celetuk D.O terkejut.
“ ya sih, tapi, kamu itu sudah menyelamatkanku.
Sampai-sampai tangan kamu terluka.” Ujar Eun Jung sembari meraih tangan kanan
D.O. ia melihat bagian siku yang terdapat lecet.
D.O menjauhkan tangan Eun Jung. “ tidak apa. Ini tidak
sakit.”
“ bagaimana bisa tidak sakit?? Kamu kan baru keluar dari
rumah sakit. Aku jadi bersalah karena terus membuat kamu terluka seperti ini.”
Eun Jung menunduk.
D.O kembali tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Eun Jung. “
sudah, jangan di ulang lagi. Sekarang kita pulang, katanya ada acara.” D.O pun
menggandeng tangan gadis itu. Namun tiba-tiba…
“ Eun Jung, kita bicara sebentar.” Si pengendara motor itu
mencoba meraih tangan Eun Jung. Tapi, dia gagal karena di tepis kasar oleh D.O.
dan mereka pun saling beradu pandang.
“ jangan sentuh dia.” Ujar D.O dingin. Ia menarik Eun Jung
untuk berdiri dibelakangnya.
“ memang apa urusanmu? Aku hanya ingin bicara sebentar
dengan dia.”
D.O tersenyum sinis. “ apa urusanku?? Kau Tanya, apa
urusanku?? Huh! Coba aku Tanya, bukankah tadi kau yang mencoba membunuh Eun
Jung??!” bentaknya kasar.
“ kau itu bicara apa?? Aku mana mungkin seperti itu pada
pacarku sendiri.”
“ ooh, begitu. Jadi, apa orang yang kita lihat itu salah,
Eun Jung??” D.O menoleh pada Eun Jung. Ekspresinya tidak sedingin ekspresi
dirinya pada Park Sung Gyu.
“ ti-ti-tidak.” Jawab Eun Jung dengan hati-hati. Ia
menunduk sembari mendekatkan dirinya pada D.O.
“ kau dengar sendiri bukan.” BUGH!! Sung Gyu meninju pipi
kanan D.O saat D.O menoleh padanya. D.O kembali menoleh pada Eun Jung karena
pukulan tadi. Namun begitu ia tersenyum melihat wajah gadis dibelakangnya ini.
Tidak ia sadari, darah mengalir dari ujung bibir kanannya.
“ kamu tidak apa??” Tanya Eun Jung pelan. D.O hanya
menggeleng. Lalu ia melepaskan genggamannya dari gadis ini.
BUGH!! Kini berganti Sung Gyu yang mendapat bogem mentah si
kidal D.O. pukulan itu sangat kuat, sehingga Sung Gyu terpelanting agak jauh.
“ bicaralah baik-baik padaku. Aku tidak menyukai kekerasan,
termasuk saat ada di hadapan Eun Jung.” Ujar D.O sembari berjalan menghampiri
Sung Gyu. Ia mengusap darah itu. Lalu setelah itu, ia mengulurkan tangan
kirinya.
“ baiklah, tapi lain kali. Aku tidak butuh bantuanmu.” Sung
Gyu menepis jauh tangan D.O. ia bangkit dengan sendirinya. Kedua matanya
menatap D.O penuh rasa permusuhan.
“ lalu apa maumu??” Tanya D.O yang berusaha sabar.
“ aku ingin Eun Jung kembali padaku.” Jawab Sung Gyu, ia
sudah bersiap dengan pukulan terbaiknya menggunakan tangan kanan.
“ tidak semudah itu. Dia sudah melupakanmu. Dia bukan
apa-apa lagi untukmu. Karena ada aku.” D.O juga sudah bersiap dengan tangan
kirinya. Bahkan mungkin lebih kuat dari Sung Gyu.
“ apa seperti itu?? Huh?! Aku tidak habis pikir dengan
selera Eun Jung yang seburuk ini.” Ejek Sung Gyu dengan senyum sinisnya.
“ aa… jika itu buruk bagimu, berarti baik bagi Eun Jung.
Bukankah pendapat laki-laki dan perempuan itu berbeda. Aku suka dengan gayamu.”
D.O tersenyum manis. Meski sebenarnya ia tidak rela tersenyum seperti ini.
“ lama-lama kau itu menyebalkan.” Sung Gyu pun mengayunkan
pukulannya. Hanya sesaat, namun tidak mengenai pipi D.O. malah yang lebih
parah, pukulan itu mengenai jam tangan D.O yang sebagian besar terbuat dari
kaca. Akhirnya jam itu pecah. Pergelangan tangan mereka terluka karena terkena
serpihan kaca itu. Spontan semuanya gelap.
***
Eun Jung cemas harap menunggu keputusan dokter. Buku itu
tetap digenggamannya, dan tangannya yang berlumuran darah itu mengotori tas
plastic yang membungkus rapi buku yang baru saja ia beli. Ia sudah mendonorkan
darah untuk D.O. Namun berbeda dengan Sunggyu, golongan darahnya tidak cocok
dengan si pengendara motor itu. Sehingga Sung Gyu mendapatkannya dari rumah
sakit.
CKREK!! Pintu ruang UGD terbuka. Keluarlah 2 sosok orang
yang begitu diharapkan Eun Jung sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan seorang
dokter dan seorang suster. Cepat-cepat ia menghampiri dua petugas medis itu.
“ bagaimana dok, keadaan teman-teman saya??” tanyanya
panic. Ia bergantian melihat wajah suster dan dokter itu.
“ mereka baik-baik saja. Tapi mereka belum sadar. Karena
tadi, darah mereka terlalu banyak yang keluar.” Jawab dokter laki-laki
berkacamata itu sambil menepuk pundak Eun Jung.
“ boleh saya melihat mereka, dok??” Tanya Eun Jung lagi.
Sekarang ia sudah sedikit lega.
“ iya. Silakan.”
“ terima kasih dok.” Eun Jung membungkuk sejenak, lalu
setelah itu ia berjalan memasuki ruang UGD. Pintu masih terbuka, karena memang
disengaja oleh suster yang bernama Hyun Ji Kyung itu.
Ia melihat dua sosok manusia tengah berbaring di dua
ranjang berbeda. Pergelangan tangan kiri mereka sudah terhubung dengan kabel
infuse. Selain itu, mereka sudah diberi masker oksigen.
Eun Jung berjalan ke tengah ruangan. Ada jalan yang
memisahkan ranjang D.O dan Sung Gyu. Ia melihat secara bergantian wajah mereka
yang baru saja selamat dari kematian. Namun ia lebih memperhatikan D.O. air
matanya sudah berada di pelupuk. Bagaimana tidak, D.O baru saja keluar dari
rumah sakit. Dan sekarang kembali di rawat. Lagi-lagi karena Sung Gyu. Ia salut
dengan sosok ini. Akhirnya air mata itu terjatuh juga, mengenai telapak tangan
kiri D.O. tak berapa lama, D.O tersadar. Ia menoleh pada Eun Jung. Saat itu,
gadis yang ada di sampingnya ini tidak mengetahui. Karena Eun Jung menangis
dengan kepala tertunduk, dan matanya pun terpejam. Pelan D.O melepas masker
oksigennya.
“ hey, kamu terlihat jelek.” Celetuknya.
Eun Jung mendengar suara itu. Ia perlahan membuka matanya,
lalu menoleh pada asal suara itu. Senyum pun tersungging dari wajah manisnya
itu. “ kamu sudah sadar??”
“ belum, aku masih mengantuk.” Jawab D.O sambil tersenyum.
Eun Jung menghapus air matanya. “ jangan bercanda, ah.”
“ siapa yang bercanda?? Aku memang masih mengantuk. Tapi
gara-gara tanganku basah oleh air matamu, makanya aku bangun. Masa’, saengku
nangis, aku enak-enakkan tidur. Kan nggak adil.” Jawab D.O sambil berusaha
duduk. Eun Jung membantunya tanpa ia minta.
“ saeng?? Sebutan yang bagus buat aku. Jadi, apa mulai saat
ini aku panggil kamu oppa??” Tanya Eun Jung sembari mengedipkan sebelah matanya
yang masih basah itu.
“ terserah saja. Asalkan tidak memakai kedipan itu. Nanti
lengket. Hehehe.” Canda D.O sambil terkekeh.
Eun Jung ikut tersenyum. Setelah itu mereka menoleh pada
Sung Gyu.
“ sepertinya dia masih ingin tidur.” Celetuk D.O pelan. Eun
Jung hanya mengangguk tanpa menoleh.
***
Seminggu lalu…
D.O tidak bisa berkutik dengan Eun Jung. Ia pasrah saja
harus menghadapi anak karate ini. Mereka bertarung di lapangan basket sekolah.
Eun Jung selalu menyerang D.O tanpa jeda. Ia tidak peduli dengan wajah D.O yang
sudah memar tak karuan itu. Ia tetap kesal dengan ucapan D.O yang selalu saja
menyindirnya dengan Sung Gyu.
Tidak ada yang berani menghalau ke-agresif-an Eun Jung.
Para guru telah angkat tangan. EXO Kingka tidak ada yang berani melawan gadis
itu. Sehingga jalan satu-satunya adalah menelpon polisi juga ambulans. Kenapa
ambulans?? Karena D.O telah pingsan karena pukulan bertubi-tubi Eun Jung.
Wuing! Wuing! Dua sirine berbunyi. Dua mobil berbeda
profesi itu berhenti asal-asalan di tengah lapangan yang menjadi sorotan public
masyarakat Hazao. Setelah itu, dua orang polisi dan 4 orang petugas medis
keluar dari masing-masing mobil. 2 petugas medis telah membawa tandu untuk
membopong D.O memasuki mobil ambulans. Lalu salah seorang dari dua polisi telah
membawa borgol, untuk menahan tangan Eun Jung yang tidak bisa diam itu.
(SKIP)
D.O perlahan membuka matanya. Suasana ini asing baginya.
Tidak berselang lama, ia merasakan sesuatu pada tangan kirinya. Karena
penasaran, ia menoleh. Seorang gadis tengah menggenggam erat tangannya. Gadis
itu tak lain adalah Eun Jung. Pelan ia membuka masker oksigen.
“ kenapa menangis??” tanyanya lirih.
Gadis itu menoleh. Ia melepaskan tangan D.O lalu menghapus
air matanya. “ menurut kamu apa??” tanyanya balik.
“ aku tidak tau, maka dari itu aku bertanya.” Jawab D.O
polos.
“ dasar bodoh, tentu saja menangis karenamu.” Celetuk Eun
Jung sembari memukul pelan lengan kiri D.O.
“ oh, eh.” D.O tersenyum lugu. Ia baru menyadari hal itu.
“ mianhae.”
“ buat apa??” Tanya D.O kebingungan. Ia pun berusaha duduk.
“ kejadian tadi siang.” Jawab Eun Jung. Ia kembali
menitikkan air matanya. Kepalanya tertunduk sembari melihat 2 ekor semut hitam
gotong royong mengangkat butiran plastic kecil.
“ ooh. Tidak usah. Kamu kan tidak punya salah apapun
kepadaku.”
Eun Jung terkejut. Ia mendongak. “ tapi..”
“ sudah. Tidak apa. Anggap saja bukan kamu yang membuatku
begini. Aku tidak apa koq. Santai saja.” Sahut D.O sembari tersenyum.
Tidak dengan Eun Jung. Ia bangkit. Lalu menatap kedua mata
D.O lekat. “ sebagai permintaan maafku, aku akan pergi dari hidupmu.” Ujarnya.
D.O terkejut. “ apa maksudnya??”
Eun Jung tersenyum simpul. “ hanya sebentar. Aku ingin
menenangkan diri dulu.”
“ oh. Baiklah.” Jawab D.O akhirnya. Dengan begitu, Eun Jung
beranjak.
“ selamat
tinggal.” Celetuk D.O agak keras. Eun Jung mendengarnya. Gadis itu hanya
tersenyum, lalu membuka pintu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar