“ ya!! Ah!! Tidak!” jerit Suho histeris. Teriakkan itu
membuat para EXO Kingka penasaran.
“ eh? Ada apa Suho hyung?” Tanya Chanyeol sembari
menghampiri meja Suho.
“ ah! GO CHAN YE!!!” teriak Suho kesal. Chanyeol spontan
menutup kedua telinganya.
“ hahaha! Aku berhasil! Yes, you’re the best Go chan ye.”
Ujar seorang gadis berambut kucir satu yang tengah memegang 5 buah spidol
warna. Dia bersorak-sorak kegirangan di belakang ruang lab IPA.
“ hey yang diluar! Jangan berisik!” teriak seorang dari
dalam lab. Chan ye menutup mulutnya, ia pun mengendap-endap pergi.
(kembali pada nasib Suho)
“ aa.. ternyata ini pekerjaan Chan ye. Berbakat juga dia.
Bukankah ini mirip dengan wajahmu, hyung?” canda Chanyeol dengan lugunya. Ia
menatap kedua mata Suho dengan sedemikian rupa.
Suho menoleh. Tatapan matanya sangatlah menakutkan. “ kau
berpihak padanya?”
Chanyeol menelan ludah. “ ah, ani ani. Ta-ta-tapi, wajah ini
sama persis denganmu hyung.”
“ awas kau ya!”
Chanyeol pun berlari kabur. Ia pergi keluar kelas dengan
cekikikan.
Kini Baekhyun yang menghampiri Suho. Ia melihat secara
seksama gambar dibuku tulis itu.
“ hehe, memang mirip sepertimu.” Setelah berkata begitu,
Baekhyun cepat kembali pada bangkunya.
Suho menghela nafas kesal. Otaknya tengah berpikir untuk
balas dendam pada gadis tomboy satu itu.
TING!! Lampu bohlam berwarna kuning langsung bersinar dalam
otaknya (?). ia mendapatkan jalan keluar. Dengan senyum licik, ia menutup
bukunya dan beranjak pergi.
“ ada apa dengan dia??” gumam Kai dengan ekspresi yang bisa
dibilang lugu. Luhan dan Sehun tertawa cekikikan saat melihat ekspresi itu.
“ hey, ngga segitunya juga kali’.” Luhan mengusapkan
tangannya pada wajah Kai.
“ hehe.” Balas Kai.
***
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!! (bel sekolah telah dirubah)
Bel ini berarti jam istirahat telah habis. Saatnya para
murid untuk kembali berkutat dengan buku pelajarannya.
Di jam ini lah, Suho masuk kedalam kelas bersama Chan Yeol.
Mereka sudah kembali akur. Ekspresi Suho pun berubah senang.
Lalu dibelakang mereka, terdapat Go Chan ye. Gadis tomboy
itu bersikap tenang. Dia selalu seperti itu jika di dalam kelas. Bukan karena
apapun, tapi karena dia adalah ketua kelas di kelas Sarang EXO Kingka ini.
Para murid sudah duduk dibangku masing-masing. Mereka
tengah menunggu kedatangan Pak Jung Seol. Yap! Hari ini adalah hari bagi kelas
2-2 untuk mengikuti pelajaran tambahan bahasa inggris.
Suho pun duduk tenang dibangkunya. Matanya melihat kearah
Chan ye. Ada sesuatu yang ia tunggu.
Perlahan, Chan ye membuka tasnya. Ia mengambil sebuah buku
tulis berwarna biru langit. Lalu ia letakkan buku itu diatas meja. Dengan
adanya buku ini ia ingat sesuatu. Tadi dia barusaja menjahili Suho. Pelan namun
pasti, matanya melirik EXOtic itu.
Dia terkejut karena Suho terlihat santai. Bahkan saat ini,
Suho tengah menorehkan tinta diatas kertas buku tulis. Langsung saja feelingnya
berubah buruk. Ia merasa kalau ada kepuasan balas dendam dari wajah Suho itu.
Dia kembali memandang bukunya. Feelingnya mengarah pada
buku tulis bahasa inggrisnya. Pelan ia menyentuh buku. Dia sudah memegang ujung
bawah cover depan.
DAG DIG DUG! DAG DIG DUG! DUAR!
Pak Jung seol tiba-tiba masuk. Ia mengurungkan niatnya.
Jantungnya sudah meledak karena suara pintu terbuka, ulah dari guru bahasa
inggris.
“ sebelum saya absen, sekarang segera kumpulkan pe-er
kalian di depan. Tidak perlu membuka buku lagi, serahkan dengan apa adanya.” Ujar
guru tersebut dengan sedikit berteriak.
Satu persatu murid pun berjalan maju. Ditangan mereka sudah
terdapat buku masing-masing. Begitu pula dengan semua anggota EXO Kingka.
Chan Ye heran dengan Suho. Buku itu yang ia pakai untuk
melukis, tapi buku itulah yang dibawa Suho maju. Ekspresi Suho pun santai.
Tidak ada raut wajah sedih atau gugup atau lainnya.
“ Go Chan Ye?! Segera bawa buku pe-er mu kemari.” Teriak
guru Jung Seol pada dia. Chan Ye mengangguk gugup, lalu bangkit dari bangkunya.
Ia berjalan menghampiri pak Jung Seol. Setelah itu menyerahkan buku tulisnya
secara sopan.
“ ku harap kali ini nilaimu lebih baik dari yang kemarin.”
Ujar pak Jung Seol seraya menerima buku itu.
“ baik pak.” Jawab Chan ye sembari membungkuk. Setelah itu
ia pun berjalan kembali menghampiri bangkunya.
Pak Jung seol ingin mengetahui hasil pekerjaan gadis itu.
akhirnya beliau pun membuka buku tersebut.
1 detik… 2 detik… 3 detik…
“ GO CHAN YE! Kemari kau!” wajah pak Jung seol memerah.
Beliau memanggil nama Chan ye dengan suara keras bak petir meledak. Mata beliau
masih tertuju pada lembar ke 10 buku tulis Chan ye.
Gadis ini langsung saja berlari kedepan. Ada feeling lebih
buruk lagi dalam batinnya. Ia terlihat tegang saat berlari.
“ iya pak. Ada apa?” tanyanya sopan.
“ apa maksudmu dengan ini?” pak Jung seol memperlihatkan
buku itu pada Chan ye.
DEG! Jantungnya berdetak keras. Dia tidak habis pikir
dengan gambar yang terpampang indah di buku tulisnya. Gambar itu adalah sebuah
tulisan dengan model Algerian. Tulisan itu berbunyi, ‘ Pak Jung seol, bolehkah
aku menciummu??’. Chan ye menelan ludahnya. Ia pun mendongak. Terlihat di bola
mata pak Jung seol, rasa marah yang luar biasa.
“ maaf pak. Tapi bukan saya yang menulis ini.” Ujar Chan ye
dengan ekspresi ketakutan.
“ lalu siapa, huh?! Bukankah ini bukumu?”
“ ini memang benar buku saya. Tapi… mungkin saja Suho yang
menggambarnya.” Jawab Chan ye sambil melirik sosok Suho yang tengah duduk
memandangi mereka.
“ jangan sekali-sekali kamu melemparkan masalah pada orang
lain.” Ujar pak Jung seol yang sibuk melototi kedua mata Chan ye.
“ saya tidak melemparkan masalah pak. Tadi saya menjahili
Suho dengan menggambar tokoh kartun Shinchan dibuku bahasa inggrisnya. Mungkin
dia balas den..” Chan ye langsung menutup mulutnya. Dia keceplosan mengatakan
hal itu. dia mengatakannya dengan suara keras pula. Matanya cepat melirik Suho.
Dia melihat anak itu tersenyum sinis.
“ oh begitu rupanya. Suho kemarilah kau!” kini pak Jung
seol memanggil nama Suho.
EXOtic itupun beranjak maju ke depan. Dia menatap Chan Ye
dengan rasa benci meluap. Lalu setelah sampai dihadapan meja guru, ia
membungkuk hormat.
“ iya guru, ada apa anda memanggil saya?” Tanya Suho sopan.
“meskipun sebenarnya disini Chan Ye bersalah, tapi kau juga
ikut bersalah atas skandal ini! Cepat pergi ke gudang dan bersihkan tempat
itu!" dengan berapi-api pak Jungseol memberikan perintah hukuman pada
mereka sambil mengarahkan telunjuknya menuju luar kelas.
"tapi pak, Chan ye yang…"
"hentikan! Kau tidak dengar?! Cepat pergi dari kelas
ini!!!" volume suara pak Jungseol semakin meninggi. Akhirnya rela tak
rela, Suho pun segera beringsut dari hadapan songsaengnimnya. Dan Chan ye
mengikutinya dari belakang.
~~
"hatsying!!"
Suho langsung menutup wajahnya saat Chan Ye menyemburnya
dengan ribuan virus atas bersinnya.
"YA! Kau itu yeoja apa namja ha?! Kalau mau bersin
jangan pada wajah orang dong!!" teriak Suho setelah ia menurunkan
tangannya. Kesal juga jika ia diperlakukan seperti itu.
"mianhae, ini juga gerakan reflek, jadi jangan
sepenuhnya salahkan aku." Jawab Chan ye dengan entengnya. Suho bertambah
kesal 2 kali lipat.
"ya ampun, benar-benar berantakkan ruangan ini. Aish!
Kenapa hukumannya harus dengan bersih-bersih sih!" omel Chan ye lanjutnya.
Tanpa harus ia ucapkan pun, sebenarnya Suho juga berpikiran yang sama.
"daripada mengomel begitu, bersihkan saja ruangan
ini." Meski seperti sebuah pernyataan, rupanya ucapan Suho lebih mengarah
pada kalimat perintah.
Dengan santainya Suho berjalan kepojok ruangan, lalu duduk
disebuah kursi yang berdiri kokoh disitu. Chan ye mengerutkan keningnya kaget.
"YA! Apa yang kau lakukan ha?!"
"sudah tau masih bertanya." Jawab Suho enteng. Ia
meregangkan tulang-tulang tubuhnya sambil menguap lebar.
Chan ye langsung cemberut. "Ya! PABO! Kalau kau tidak
segera pergi dari kursi itu dalam hitungan kelima, akan aku adukan kelakuanmu
ini pada Jungseol songsaengnim! Han! Ttul! Seis…"
BLAM!
Chan ye dan Suho spontan mengerjapkan kedua mata mereka.
Shock melihat apa yang barusan terjadi. Bisa jadi ini adalah malapetaka bagi
mereka.
"ANIYA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
(sementara itu)
"kikikik.. sangat mudah dan berhasil." Bisik
seorang namja berambut blonde pada seorang namja bermata belo.
"tepat sasaran.." timpal si mata belo sambil
menunjukkan jempol kanannya.
"ayo kita beritahukan pada boss." Ajak si rambut
blonde sambil mulai beranjak.
Si mata belo tidak menjawab sepatah katapun, ia hanya
melaksanakan apa yang diucapkan sirambut blonde.
~~
Suho mondar mandir layaknya setrikaan sambil menggigit ibu
jarinya. Sementara itu Chan ye duduk dikursi yang ditempati Suho tadi. Matanya
sembab karena ketakutan. Sebenarnya Suho kesal pada Chan ye, yang biasanya
bersikap sok tomboy, tapi begitu ruangan menjadi gelap, dia langsung menangis
ketakutan seperti anak kecil.
"sudahlah! Jangan menangis terus! Bantu aku cari jalan
keluar!" teriak Suho karena sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.
"aku phobia kegelapan! Arraseo!" balas Chan ye
yang langsung menelungkupkan wajahnya diantara tumpukkan tangannya.
Suho semakin frustasi saja. Ia menarik-narik rambutnya
sambil menahan geram.
Beberapa detik kemudian..
"huft… baiklah Suho,berusahalah tenang."
Chan ye pun mengangkat kepalanya dan memperhatikan sikap
Suho yang terlihat samar-samar.
"wae?"
Suho pun menoleh. "gwaenchana."
Chan ye mengerucutkan bibirnya. "kau ini seperti orang
gila saja."
"itukan menurutmu." Suho berusaha membela
dirinya. Karna ia tidak mau terjadi hal diluar dugaan.
"aish!"
"wae?"
"aku lapar."
BLETTAK!
"aw! Apa-apaan sih ah!!" jerit Chan ye kesal.
"dalam keadaan seperti ini, masih saja memikirkan
makanan. Makanya jangan suka menjahili orang." Ujar Suho yang tadi
menjentikkan jarinya ke kening Chan ye.
"apa hubungannya antara makanan dan menjahili
orang??" Tanya Chan ye sewot.
"kalau sedang jam istirahat, lebih baik gunakan untuk
membeli makanan daripada harus menggambar di buku tulisku. Arraseo?!"
Chan ye sempat terkejut, sebelum akhirnya dia tersipu malu.
"iya iya, mian.."
Suho hanya menghela nafas. Lalu ia pun melirik jam
tangannya.
"ya ampun!"
"eh? Wae?" Chan ye ikut terkejut.
"ini sudah jam 4 sore!!!"
"mwo?!"
"ini sudah jam 4 sore tau! Pantas saja aku sudah tidak
mendengar siapapun dari luar." Suho mendekati sebuah jendela berkaca
kusam, lalu melihat suasana sekolah yang sepi dan terangnya matahari sore.
"aniya.. aku takut jika seperti ini.. hiks.."
Chan ye kembali menangis.
Suho pun menoleh. Ia ingin marah lagi tapi tidak tega,
akhirnya ia pun berjalan mendekati tumpukkan barang-barang yang berada didalam
kardus.
Pergerakan Suho membuat Chan ye tertarik untuk melihatnya.
"kau sedang apa?"
"mumpung masih terang, aku akan mencari penerangan
disekitar sini. Mungkin saja ada senter yang masih bisa terpakai." Ujar
Suho tanpa menoleh sedikitpun.
Chan ye terharu mendengarnya, ia pun menyeka air matanya
lalu bangkit dan membantu Suho.
"aku akan cari disini." Ujar Chan ye disela-sela
sesegukannya. Ia pun mulai mengacak-acak kardus dihadapannya sampai akhirnya ia
menemukan sebuah benda yang sedang mereka cari.
"aku menemukan senter." Ujar Chan ye tiba-tiba.
Suho pun langsung menoleh dan mendapati sebuah senter berukuran tangguh yang
berada digenggaman Chan ye. Tapi sepertinya senter itu sedikit bermasalah
dengan kondisi batrei nya.
"tapi batreinya… ah.." sepertinya Suho menemukan
ide brilian. Ia pun merogoh saku seragamnya dan mendapatkan 2 batrei sekaligus.
Untungnya, ukuran batrei itu sama dengan ukuran batrei untuk senter.
Suho merebut senter itu, lalu memasangkan kedua batrei tersebut
dan menyalakannya.
"nah,begini kan lebih baik."
Namun belum beberapa menit, Suho sudah mematikan senter
itu.
"ya! Apa yang kau.."
"untuk menghemat daya. Kita akan sangat membutuhkannya
nanti. Apa lagi hanya kita berdua disini."
Mendengar kata 'hanya kita berdua disini', Chan ye
pun cepat-cepat kembali ke kursi itu dan duduk dengan melipat kakinya. Ia
menatap kedua mata Suho dengan sangat tajam.
"jangan pernah macam-macam denganku." Ujar Chan
ye lanjutnya.
Suho mengerutkan keningnya. Ia pun meletakkan senter itu
diatas meja lalu mengalihkan pandangannya pada yeoja itu.
"apa maksudmu?"
"seperti cerita-cerita yang pernah aku baca, seorang
yeoja jika hanya berduaan ditempat gelap bersama seorang namja, kehormatannya
akan terancam." Ujar Chan ye masih dengan kilat mata waspada.
Suho pun tertawa.
"hahahaha, itulah akibatnya menjadi anak kutu buku.
Selalu saja pikirannya berimajinasi kedalam cerita itu. Hah… tenang saja, aku
tidak akan mau denganmu." Cibir Suho sambil berjalan kesudut lain ruangan.
Sebenarnya Chan ye kesal dicibir seperti itu, tapi ia tidak
ingin melawan saat situasi seperti ini.
Beberapa menit mengorek kardus itu, Suho menemukan sebuah
cincin yang masih bagus didalam sebuah kotak kecil usang. Dalam pikirannya, ia
ingin menghadiahi cincin indah itu pada yeoja yang ia cintai nanti. Sehingga
tanpa mengatakan apapun pada Chan ye, ia memasukkan kotak cincin itu kedalam
saku celananya.
~~
Ruangan berdebu ini sudah terlihat sedikit terang. Jam
tangan Suho telah menunjukkan pukul 9 malam. Pantas saja Chan ye sudah terlelap
dalam tidurnya. Ia pun melepas jasnya, lalu menyelimutinya ke tubuh Chan ye
yang tidur dalam keadaan duduk. Sementara itu, ia yang belum mengantuk, mulai
berinisiatif untuk membereskan ruang itu sendirian. Bukankah mereka berada
disini karena sebuah hukuman??
Sesekali, Suho mendengar igauan Chan ye. Dan Suho pun
akhirnya berhenti bekerja begitu waktu menunjukkan pukul 11 malam. Ia pun
melirik pada Chan ye, dimana yeoja itu masih dalam keadaan semula.
Akhirnya dengan kelelahan yang begitu berarti, Suho
memejamkan matanya dalam keadaan ia duduk bersandar pada tumpukkan kardus yang
sudah ia bereskan.
~~
Esok harinya…
Suho perlahan membuka matanya. Ia melihat sekitarnya yang
masih diterangi cahaya senter, namun diluar sana langit ternyata sudah cerah.
Segera ia pun bangkit lalu menoleh pada kursi dimana Chan ye tidur. Benar saja,
Chan ye sudah tidak ada disana. Di ruang sesempit ini, jelas tidak mungkin jika
Chan ye bersembunyi. Dan sepertinya, pintu sudah dibuka.
Langsung saja Suho berjalan keluar. 3 langkah didepannya,
rupanya terdapat Chan ye yang sedang berdiri sambil menghirup udara pagi.
"wah!!! Aku bebas!!!" yeoja itu merentangkan
tangannya sambil berteriak lantang. Rambutnya terombang ambing karena dimainkan
oleh emosi sang angin. Bahkan berteriak selantang itu layaknya hanya dia yang
ada dilantai teratas bangunan ini.
Entah kenapa, Suho merasakan sesuatu yang aneh pada
jantungnya. Sungguh cepat sekali detaknya, sampai sampai ia hamper tak kuat
menahannya. Hanya karena ia melihat rambut Chan ye yang begitu lembut dimainkan
angin.
Perasaan itu terus menjalar disekujur tubuhnya sampai
akhirnya Chan ye menyadari keberadaannya.
"ngh? Kau?? Sudah bangun??"
Suho mengangguk cepat.
"nih, untukmu." Chan ye menyodorkan sebotol
tanggung air mineral.
Suho segera mengambilnya dan meminumnya. Saking groginya,
air mineral itu banyak yang terbuang sia-sia ke seragamnya.
"kalau minum pelan-pelan saja." Ujar Chan ye
sambil kembali membelakangi Suho.
Suho sedikit salah tingkah sambil menutup kembali botol
itu.
"gomawo."
Chan ye berbalik, lalu menerima botol itu dan kembali
membelakangi lagi.
Saat Suho akan mengatakan sesuatu, suara 2 namja membuatnya
mengurungkan niatnya. Suara itu mengarah kemari.
"sudah, jangan berpikiran macam-macam. Suho bukan tipe
seperti itu." Ujar sebuah suara.
Suho semakin menajamkan telinganya.
"ah,baiklah. Tapi kalau sampai dia tau kita yang
menguncinya, bagaimana?? Aku tidak ingin kena marah dia lagi." Ujar suara
yang berbeda.
Suara yang kedua ini, begitu sangat familiar ditelinganya.
"tenang saja. Ini masih terlalu pagi untuk mereka
bangun." Ujar suara yang pertama.
Suho melirik jamnya. Ia geleng-geleng begitu tau pukul
berapa sekarang. (6.30 KST)
"ayo kita kejutkan mere.."
Si suara pertama tidak melanjutkan ucapannya saat melihat 2
sosok manusia berlainan jenis tengah berdiri dengan angkuhnya menatap mereka.
"..ka.." si suara pertama yang ternyata berambut
blonde,bername tag Xi Luhan. Langsung menelan ludahnya dengan sadis.
Sementara si suara kedua alias si mata belo atau Do
Kyungsoo, hanya mampu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
"ini masih pagi sekali, kenapa baru berangkat?"
Tanya Suho dengan sedikit memiliki unsure menyindir dalam pertanyaannya.
"oh eh.. hehe. Kau sudah bangun hyung??" si mata
belo terkekeh takut.
"jadi kalian yang mengunci kami kemarin!!!"
teriak Chan ye geram.
Xi Luhan tersenyum innocent. Sebenarnya cukup menyesal ia
melakukan ini, apa lagi yang ia hadapi adalah yeoja jadi-jadian.
"ah… karna kalian sudah bangun, sebaiknya kami
pergi." Luhan pun menarik seragam Kyungsoo bagian bawah. Lalu ia berbalik
dan berlari.
Suho tidak berminat mengejar. Ia hanya diam ditempat untuk
melihat kedua namja itu lari terbirit-birit. Sementara Chan ye menghentakkan
kakinya berulang kali sambil mengumpat.
"awas saja kalian!! Tau rasa nanti!!"
"sudah marahnya??" Tanya Suho enteng.
Chan ye langsung menoleh. "apa yang kau bilang??"
"sudah belum marahnya??" Suho mengulangi
pertanyaannya.
"kau mengejekku ya?!"
Suho menghela nafas kesal.
"ya sudahlah, to the point saja. Nih,untukmu. Jangan
pernah sampai hilang. Awas kalau nanti hilang, kusuruh kau mengganti sama
persis seperti itu." Suho meletakkan kotak usang itu diatas telapak tangan
Chan ye. Lalu tanpa berminat mendengar apapun, Suho beranjak pergi.
Chan ye penasaran dengan isi kotak usang itu. Ia pun segera
membukanya. Awalnya ia mengira ini pasti hanya jebakan Suho,namun…
"indah sekali…" gumamnya terpana.
Bukan hanya itu saja, ada secarik kecil kertas disana.
Simpan cincin ini sebagai tanda kamu menerima permintaan
persahabatanku
Chan ye tersenyum. Ia mengambil cincin itu lalu ia
lingkarkan dijari manisnya. Ia angkat tangannya dan memandangi cincin itu dari
bawah.
Tanpa Chan ye sadari, seorang namja berwajah
tampan itu yaitu Suho, tengah melihatnya dari kejauhan. Ia pun tersenyum dengan
wajah yang benar-benar berseri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar