Senin, 13 Januari 2014

Werewolf Boy's and Beautiful Girl's


Red Eyes Werewolf
Casting : Kim Jong In, Lee Ah Ra

"ANI!! ANI!! JANGAN MENDEKAT!! TOLONG!!"
Percuma saja yeoja itu berteriak. Sosok aneh dihadapannya tetap mendekat padanya. Sosok aneh yang berdiri layaknya manusia, namun dengan wajah dan tubuh seperti serigala. Mungkin mitos itu benar adanya. Hari ini, tengah bulan di tengah malam saat bulan purnama, sosok manusia serigala pasti akan datang mencari sosok yeoja yang belum pernah mereka dapatkan. Dan mungkin saja…
Yeoja itu pingsan seketika saat ia mulai tidak kuat lagi menahan ketakutannya pada sosok aneh yang telah menyentuh kasar pundaknya.
"arrgh!!"
~~
Cahaya yang menyilaukan, sanggup membuat kedua mata Ahra terbuka. Ia melihat sesuatu dihadapannya. Dedaunan lebat, awan dan matahari. Detik selanjutnya, ia segera menegakkan tubuhnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang ada dihadapannya kali ini.
"HWAA!!"
Ia berusaha menjauhi sosok itu dengan bergerak mundur. Anehnya, sosok itu hanya terdiam sambil memandanginya.
Ahra mulai berhenti ketakutan. Ia tau, ini tidak ada gunanya dihadapan sosok itu. Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk menatap kembali sosok yang ternyata namja itu.
"si-si-siapa kau??" Tanya Ahra sambil memandangi namja yang terlihat tampan tapi sedikit menakutkan. Wajah namja itu banyak luka dan memar serta kusam. Serta pakaian namja itu sepertinya hanya satu-satunya. Jadi jika dilihat dari jauh, akan lebih mirip pengemis.
Namja itu menunjuk dirinya.
Ahra pun mengangguk ragu.
Namja itupun berdiri. "Kai."
Ahra hanya terdiam mendengarnya. Namja bernama Kai itu tersenyum sinis, bangkit dan berjalan menjauh.
Ahra merasa, namja itu tengah menuntunnya pergi kesuatu tempat. Ia berusaha untuk berdiri, hanya saja dadanya mulai terasa sesak. Itulah alasan dia ada disebuah rumah dekat dengan hutan, hidup sendiri pula. Ia ingin menyembuhkan penyakit yang menganggu paru-parunya selama ini. Karena begitu menyesakkan, ia tidak melanjutkan usahanya, tapi berusaha mengatur nafasnya yang belum teratur.
"pejamkan matamu.." ujar seseorang dari belakangnya.
Ia pun terkejut dan segera menoleh. Ia lebih terkejut lagi mendapati siapa namja itu, namja yang baru saja ia kenal beberapa detik lalu.
Ahra tidak bisa mengucapkan kata apapun. Dadanya semakin sesak dan semakin tidak ada ruang untuk masuknya oksigen. Akhirnya ia memilih untuk menuruti perintah namja itu. Ia pun memejamkan kedua matanya.
Kai, mencengkram lembut kedua pundak Ahra dan menggerakkan tubuh yeoja itu untuk bersandar pada dirinya. Setelah ia merasa punggung yeoja itu menyentuh tubuhnya, ia pun menempelkan pelipisnya pada pelipis Ahra. Lalu ia terpejam.
"kau, yeoja yang sangat kuat yang ku kenal, Ahra-ya.." bisik Kai saat ia terpejam.
Ahra mendengar itu. Ia ingin sekali membuka kedua matanya, namun, seperti ada yang menahan. Tubuhnya semakin lemas saat jalan oksigen perlahan terbuka lebar di paru-parunya. Ia sudah mampu bernafas dengan lancar.
"bukalah matamu." Bisik Kai selanjutnya.
Ahra perlahan membuka kedua matanya. Ia sedikit menyipit karena pupil matanya belum siap menangkap sinar sebanyak itu. Ia perlahan menegakkan tubuhnya, lalu menoleh pada Kai.
"go-gomawo.."
Namja itu hanya tersenyum lalu berdiri. Ia mengulurkan tangannya.
Ahra menerima uluran itu dan ia ditarik berdiri. Mereka berdiri berhadapan. Ada rasa canggung dalam diri Ahra saat mereka begitu dekat. Ia pun mundur selangkah.
Kai tersenyum kecut. "aku sangat menakutkan?"
Ahra hanya terdiam sambil melepaskan tangannya dari genggaman Kai.
Lagi-lagi Kai tersenyum kecut. Ia pun berjalan melewati yeoja tersebut.
Ahra menghela nafas sambil memejamkan mata.
~~
Ahra menemukan Kai sedang duduk dipinggir sungai sambil merenung. Ia pun menghampiri namja itu dengan membawa sebuah jaket ditangannya.
"Kai-ya.." panggilnya lirih begitu berada disamping namja itu.
Namja tersebut menoleh dengan tatapan datar. "mwo?"
Ahra mengulurkan jaket ditangannya. Sementara Kai mengerutkan keningnya bingung.
"apa itu?"
"jaket." Jawab Ahra singkat.
Kai pun tersenyum kecut. "aku tidak akan paham semua tentang manusia." Ujarnya.
Ahra mulai merasa bersalah. Ia menarik kembali tangannya, lalu duduk sedikit jauh disamping Kai.
"mianhae.."
Lagi-lagi Kai tersenyum kecut dan ia pun mengalihkan pandangannya kedepan.
"sejak berumur 8 tahun, aku hidup disini. Sampai sekarang, entah umur berapa aku… aku tidak pernah mengerti semua hal tentang manusia. Yang aku tau hanyalah… bertarung, mencari makan, bersembunyi dan… yeoja.."
Ahra mendengarkan itu sambil memeluk jaket digenggamannya. Ia menghela nafas mendengarnya. "kenapa kau hidup disini?"
Kai tersenyum kecut. "orang gila telah menjadikanku kelinci percobaannya. Orang gila itu, eomma sebut sebagai appa. Ia rela aku mati atau hidup, asalkan ramuannya berhasil. Dan benar saja. Aku tetap hidup. Tapi dengan gen serigala. Orang gila itu, sudah membuatku menjadi manusia serigala. Aku tidak ingin hidup di kota dan mengancam kehidupan orang-orang yang tidak bersalah. Akhirnya aku kabur kemari dan hidup disini, sendiri.."
Angin dingin berhembus mengenai kulit mereka. Ahra sedikit tertolong dengan pakaian tebal dibadannya. Lalu jaket digenggamannya, ia pakaikan ditubuh Kai.
Kai terkejut dengan apa yang terjadi dan ia pun menoleh.
Ahra pun tersenyum. "udaranya dingin, kau bisa jatuh sakit nanti. Jaket ini, fungsinya untuk menghangatkan tubuhmu." Ujarnya sembari mengelus-elus punggung Kai.
"aku tidak bisa jatuh sakit. Arra?" ujar Kai sedikit ketus. Ia sedikit tersinggung dengan pernyataan Ahra bahwa ia akan jatuh sakit jika terkena udara dingin.
Ahra terdiam seketika. Ia pun menurunkan tangannya. "oh.. arraseo.. mianhae.."
Kai pun berdecak kesal. Ia melepaskan jaket itu dan menjatuhkannya, lalu beranjak pergi.
Ahra menghela nafas dan meraih jaket tersebut.
~~
Kriing kriing…
Ahra segera meraih ponselnya saat nama eomma tertera dilayar benda berbentuk bersegi panjang tersebut.
"eomma?"
"kau baik-baik saja?"
"nde.."
"ah.. syukurlah. Maafkan eomma. Besok eomma tidak bisa menjengukmu. Ada tugas mendadak rupanya."
Akupun menghela nafas. "nde, gwaenchana.."
"eomma janji, minggu depan eomma akan menjengukmu. Kau baik-baik disana ya.."
"nde.."
"ya sudah, eomma tutup dulu. Saranghae…"
KLIK!
Ahra menghela nafas. Ia mengelus layar ponsel dengan ibu jari tangan kanannya. Ia menatap layar ponsel tersebut dengan perasaan kecewa.
"rupanya.. eomma lebih memilih pekerjaan daripada aku."
Cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Ia masih menahan sesegukkan yang telah menyesakkan dadanya. Tapi.. ia tersenyum sedih melihat ponsel tersebut.
Kai melihat yeoja itu menahan tangis. Ia pun berjalan menghampiri yeoja itu dan berdiri tepat dihadapannya. Tangannya mengusap pipi yeoja itu lembut, lalu menarik yeoja itu kepelukannya.
"menangislah. Kalau kau tahan, dadamu akan sesak lagi.." bisiknya.
Ahra menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat itu. Mulai terdengar sesegukkan darinya. Ia benar-benar menangis sekarang.
Kai mengelus rambut yeoja itu sambil terpejam.
Kau yeoja yang kuat, Lee Ahra..
~~

Telekinetic Wolf
Casting : Xi Luhan, Kim Dae Na

Sepulang dari mengobati seorang pasien, Daena ingin sekali cepat tidur dipondoknya. Namun entah kenapa, rasanya ada feel yang aneh dalam dirinya. Dia merasa, seperti ada yang terjadi didalam rumahnya. Namun, perasaan tetap perasaan, terkadang menipu sehingga ia memilih untuk membuang rasa aneh itu dan membuka pintu depan pondoknya.
CKREK!
1 detik… 2 detik… 3 detik…
"HWAAAA!" Daena pun menempelkan punggungnya pada daun pintu sambil memandangi dengan penuh takut pada sosok aneh dihadapannya. Sosok itu sangat menakutkan dan sangat kotor. Sosok itu seperti tertarik pada dirinya.
"jangan mendekat! Aku akan berteriak jika kau sampai mendekat!" ancam Daena sambil menunjuk sosok tersebut.
Sosok itupun terdiam ditempat. Ia memandangi telunjuk Daena sambil menggerak-gerakkan kepalanya. Seperti perilaku manusia purba, ia mendengus untuk mencium bau telunjuk Daena lalu menyentuh.
Daena sedikit aneh dengan sikap sosok itu. Sosok itu tidak jauh seperti sosok manusia, hanya saja kurang terawat dan bisa terbilang seperti binatang kelakuannya.
"nu-nu-nuguyo??" Tanya Daena dengan terbata-bata. Ia tidak menurunkan tangannya karena takut sosok itu marah.
Sosok itu hanya menggerak-gerakkan kepalanya dan memandangi wajah Daena dengan polos. Ia pun berjalan mendekat. Dekat .. dekat hingga…
JREK!
Perlahan, Daena mengangkat kepalanya dan melihat sebuah pisau tertancap baik dipintu tersebut. Ia kini dalam posisi 'sedikit' dipeluk sosok tersebut dan dalam keadaan duduk. Bisa dibilang, sosok mengerikan itu telah menyelamatkannya dari maut.
Daena mengalihkan pandangannya pada sosok itu. "kau menyelamatkanku… kamsahammida.."
Sosok itu hanya diam. Ia pun melepaskan rangkulannya dan berjalan mundur.
Daena mulai merasa ia terlalu menjauhi sosok polos dan baik itu. Ia akhirnya memberanikan diri untuk berkata..
"kau terlihat kurang baik. Aku…." Daena menghirup nafas lalu membuangnya cepat.
"aku akan merawatmu." Ujarnya akhirnya.
Sosok itu lagi-lagi terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Sementara itu, Daena tersenyum. "aku serius."
~
Seusai memandikan sosok itu, Daena pun membawa sosok tersebut kesebuah ruangan. Di ruangan itu sudah terdapat sebuah kasur dan sebuah nakas.
Daena pun mendongak dan melihat sosok yang ternyata terlihat sangat tampan itu.
"tidurlah disini. Ini sudah malam dan aku juga sudah lelah. Aku harap kamu menyukai tempat ini." Ujarnya sambil tersenyum.
Sosok yang sebenarnya namja itu, memandangi kasur dihadapannya dan hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.
Daena tersenyum melihat ekspresi namja itu. "ah.. kau ini begitu lucu. Sudah, sekarang waktunya tidur. Em.. apa harus kubantu juga?"
Namja itupun menoleh. Tatapannya sama seperti tadi, polos dan begitu manis.
"kurasa tidak perlu. Baiklah, tidurlah. Aku juga akan tidur. Selamat malam.." Daena pun melambai lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Namja itu mengikuti kemana Daena pergi, dan Daena merasakannya. Ia berbalik tiba-tiba dan hampir saja menabrak namja itu.
"ah.. ayolah. Haruskah aku membantumu untuk tidur?"
Namja itu hanya terdiam sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
Daena menghela nafas. Ia meraih pergelangan tangan namja itu dan menariknya mendekati kasur.
"kau hanya perlu berbaring dan memejamkan mata. Seperti ini." Daena mempraktekkan bagaimana caranya tidur pada namja berambut pirang itu.
Namja itu hanya memandang dan mengerjapkan kedua matanya.
Daena sedikit kikuk dipandang seperti itu. Ia membetulkan cara berdirinya dan menunjuk kasur. "tidurlah."
Namja itu hanya terdiam.
Akhirnya mau tak mau, Daena pun membantu namja itu untuk berbaring.
"pejamkan matamu."
Namja itu malah memandanginya.
"aish!! Pejamkan matamu seperti ini." Daena mengusap wajah namja tersebut dengan sedikit kasar. Sehingga, wajar saja kalau namja itu mendesis kesal.
"mian.." ujar Daena akhirnya.
Tapi namja itu seperti tidak terima. Disaat Daena bangkit dan akan beranjak pergi, namja tersebut menarik tangannya sehingga ia terjatuh dalam keadaan terbaring. Ironisnya, wajah namja itu tidak jauh darinya.
"ya~! Apa…apa yang akan k-kau lakukan??"
Namja yang tengah mendesis itu terus mendekatkan wajahnya.
"andwae! Jangan macam-macam Luhan-ah!!" teriaknya.
Namja itu berhenti bergerak begitu Daena menyebut kata 'Luhan' padanya. Sehingga Daena menggunakan kesempatan ini untuk mendorong namja itu pergi. Ia pun duduk sambil membenahi rambutnya.
"tidak usah terkejut seperti itu. Aku hanya memberimu nama. Kau harus tau, dulu appa dan eomma membuat kesepakatan saat aku dalam kandungan. Eomma akan memberi nama Xi Luhan jika yang lahir adalah namja, lalu appa akan memberi nama Kim Daena jika yang lahir adalah yeoja. Dan… kau bisa lihat sendiri. Aku terlahir sebagai yeoja, sehingga namaku Kim Daena. Kalau saja eomma masih hidup dan bisa melihatmu saat ini, sudah pasti namamu adalah Xi Luhan. Tapi eomma tidak ada, jadi, aku yang memberikan nama itu padamu." Terang Daena panjang lebar sambil mengusap pipinya yang basah.
Luhan hanya memandangi wajah yeoja itu. Ada rasa iba dan terpesona dari wajahnya. Ia yang tadinya berkulit kusam dan kotor, sekarang menjadi putih dan bersih. Semua ini karena yeoja dihadapannya.
Perlahan tangan Luhan terangkat. Jemarinya menyentuh lembut pipi Daena dan menghapus jalan air mata yang kembali terukir. Tatapan matanya memperlihatkan kalau ia… tidak lagi marah akan kelakuan Daena tadi.
Daena langsung memeluk namja itu. "aku merindukan dia, Luhan-ah.."
Luhan hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Namun kehangatan yang perlahan menjalar ditubuhnya, membuat ia terpejam sambil menyunggingkan senyum.
~~
Esoknya…
Daena membuka matanya dan melihat langit-langit ruangan itu. Ia pun tersadar dan segera bangkit. Dilihatnya ruangan yang hanya terdiri dari sebuah kasur dan sebuah nakas itu. Ada sosok berambut pirang tengah bermain-main dengan sebuah pensil. Namja itu tengah menulis sesuatu didinding ruangan ini. Daena pun tersenyum dan berjalan mendekati namja itu.
"annyeong Luhan-ah.. kau sedang menulis sesuatu??" tanyanya sambil berjongkok dihadapan Luhan.
Luhan tidak menjawab. Matanya tetap focus pada tulisan yang ia buat. Sehingga Daena pun menoleh.
Xi Lu Han <3 Kim Dae Na
Daena sedikit terkejut tapi detik selanjutnya ia tersenyum. Ia pun menoleh kembali pada Luhan lalu mengelus-elus rambut namja itu. Luhan menoleh seperti shock.
"tanpa perlu kuajari, rupanya kau pintar menulis. Kau jenius, Luhan-ah.."
Luhan menjatuhkan pensilnya karena terpesona. Setelah itu, ia berbalik mengelus rambut Daena. Daena tersenyum karnanya.
"aku tidak jenius, Luhan ah.." ujarnya.
Namun Luhan tetap mengelus rambutnya. Daena meraih pergelangan tangan Luhan dan menurunkannya.
"Luhan-ah, lakukan itu jika aku terlihat pintar bagimu. Oh ya, aku akan pergi kerja sekarang. Kau… jaga rumah, nde?"
Luhan hanya terdiam sambil mengerjapkan kedua matanya.
Daena menghela nafas. "baiklah, untuk hari ini kau bisa ikut. Lagipula, pasiennya tidak di rumah sakit."
Luhan terlihat senang dari senyumnya yang sumringah. Daena pun ikut tersenyum.
"kau terlihat sangat tampan, Luhan-ah.."
~~
Twilight


Ahra selalu mengikuti kemana Kai pergi. Karena, ia begitu tertarik dan berterima kasih kepada namja yang telah membuatnya tidak sesak nafas lagi.
Kai merasa risih dan ia pun berbalik. "ya~! Jangan mengikutiku."
Ahra terdiam ditempat. "aku hanya tidak tau hutan ini, maka dari itu, aku mengikutimu."
Kai tersenyum sinis. "kau berbohong."
DEG!
Untung saja hanya detakkan kecil, ia sangat takut jika ini disebut Heart Attack.
"kau benar. Aku sangat berterima kasih padamu. Makanya, aku akan selalu ada disampingmu. Tapi sepertinya, kau tidak menginginkannya. Aku pergi." Ahra pun berbalik dan mulai melangkah pergi.
Namun, Kai seperti merasakan ada werewolf sepertinya yang berada tidak jauh dari sini. Ia pun mengejar yeoja itu dengan satu langkah. Dan ia meraih lengan Ahra dan Ahra pun memutar badannya.
"wae? Bukankah kau menyuruhku pergi??"
Kai menggaruk kepala belakangnya kesal. "aku tadi belum mengatakan apa-apa. Kau dengan seenaknya sendiri pergi begitu saja."
Ahra hanya terdiam.
"ikuti aku, sepertinya ada werewolf lain disekitar sini." Ujar Kai sambil memicingkan matanya melihat sekitar.
"ani. Aku tidak bisa, Kai-ya. Dokterku akan datang dan memeriksaku."
Kai terdiam. "dokter? Dia akan datang ke rumahmu?"
Ahra mengangguk. Ia pun melepas cengkraman Kai, namun Kai kembali meraih pergelangan tangan yeoja tersebut.
"akan ku antar."
Ahra mendongak shock. "kau serius?"
"keurae. Kau akan kesasar jika tidak bersamaku." Ujar Kai sembari menarik tangan kecil itu untuk beranjak dari tempat mereka berdiri ini.
~
Luhan terlihat agresif saat mereka mendekati rumah tersebut. Luhan terus menggeram seperti ada yang mengancam keberadaan mereka. Daena yang ada disampingnya, sedikit ketakutan namun berusaha untuk menenangkan namja itu.
"waeyo?? Jangan seperti itu.." ujarnya sambil mengelus punggung Luhan.
Luhan masih tetap menggeram. Ia melihat sekeliling mereka yang memang dekat dengan kawasan hutan. Dan tatapan Luhan, berhenti disatu titik.
Daena menoleh ketitik itu dan menemukan seorang namja yang terlihat tidak terawat dan seorang yeoja yang sangat ia kenal.
Luhan semakin menggeram. Giginya bergemerutuk seperti ingin fight dengan namja itu.
Daena terus berusaha menenangkan Luhan dengan mengelus punggung namja tersebut.
"tenanglah Luhan-ah.."
~
Kai mempererat genggamannya pada Ahra, seperti tidak ingin kehilangan. Ia juga mulai menggeram saat memandangi wajah namja yang telah menjadi tampan disebrang sana. Sikapnya ini, membuat Ahra berhenti berjalan dan menoleh.
"ada apa Kai-ya?"
Kai tidak menjawab. Ia masih tetap menggeram.
Ahra pun mendengar samar-samar geraman yang sama dari namja disamping dokternya.
Ia dan Daena saling bertatapan, mereka saling mengisyaratkan,
Aku tidak tau apa yang terjadi
~
Kai dan Luhan bertatapan sangat lama. Sampai keganasan mereka muncul dan merubah wujud mereka masing-masing.
Kai. Matanya berubah menjadi warna merah menyala. Muncul cakar dan taring serta bulu yang sangat lebat. Wajahnya menjadi semakin abu-abu.
Luhan. Matanya tetap berwarna coklat, namun sedikit mengkilat. Bulunya berwarna pirang dan muncul taring serta cakar. Wajahnya ditumbuhi bulu yang berwarna putih.
Ahra dan Daena berjalan menjauh dari mereka. Lain dengan Ahra, Daena menutup mulutnya yang menganga dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Luhan-ah…"
Ahra tidak terkejut dengan wujud ini, tetapi ia sedikit takut. Sampai-sampai kakinya tidak kuat menopang tubuhnya dan ia terjatuh dalam keadaan duduk begitu saja.
Namun, kedua manusia serigala itu tidak mempedulikannya. Mereka tetap menatap satu sama lain dan bersiap menyerang.
"ANDWAE!!!!!!!!!!!!!!!!"
Daena berlari diantara mereka dan menahan Luhan untuk menghentikan apa yang dilakukan. Tapi, Luhan terlalu buas sekarang dan ia dengan mudahnya menghempaskan tubuh Daena hingga badannya terlempar membentur sebuah pohon.
BRAK!
"sshh.." hanya itu yang muncul dari bibir Daena. Kepala bagian belakangnya mengeluarkan darah.
"an--andwae…" ujarnya lirih.
Luhan menoleh pada yeoja yang sekarang telah terbaring lemas itu. Tiba-tiba saja, tubuhnya kembali berubah menjadi manusia. Ia berlari menghampiri Daena dan memeluk yeoja itu.
Daena tersenyum dalam rasa sakitnya. "kau pintar."
Detik selanjutnya, Daena pun pingsan.
Kai juga kembali merubah wujudnya menjadi manusia. Ia menoleh pada Ahra yang terlihat pucat karena ketakutan. Ia mulai panic dan berjalan perlahan menghampiri yeoja itu.
"Ahra-ya.."
"ani! Jangan mendekat!" teriak yeoja itu dengan penuh ketakutan. Ia terus bergerak mundur dan wajahnya semakin pucat.
"Ahra-ya.. dadamu akan sesak lagi jika kau seperti ini." Ujar Kai yang tidak berhenti dari langkahnya.
"kau menakutkan! Kau.. kau…" akhirnya Ahra pun bernasib sama dengan Daena. Dadanya kembali sesak dan ia pun pingsan.
Untungnya, Kai cekatan menangkap tubuh yeoja itu yang akan mengenai sebuah batu besar. Ia segera memeluknya.
"mianhae, Ahra-ya… jinjja mianhae.."
~~
Beast and the Beauty

"jangan kembali muncul dihadapannya. Kau bisa menakuti yeojaku." Ujar Kai disaat ia dan Luhan menunggu kedua yeoja itu siuman. Mereka berempat telah berada di pondok milik Ahra
Luhan hanya terdiam sambil membelai rambut Daena.
"sepertinya yeojamu juga ketakutan melihat wujud asli kita. Kuharap, kita tidak akan bertemu lagi." Lanjut Kai.
"yeojamu adalah pasiennya." Ujar Luhan tiba-tiba. Ia yang tidak pernah berbicara, sekarang mencoba untuk bicara yang membuat tulang pipinya sedikit ngilu.
Kai tersenyum sinis. "rupanya kau bisa bicara juga."
"yeoja inilah, yang membuat aku menjadi bersih." Ujar Luhan tanpa mempedulikan ucapan Kai.
"Ahra telah mengajari padaku apa itu kekuatan yang sesungguhnya." Celetuk Kai yang memandangi yeojanya yang terbaring lemas.
Kedua namja itu tersenyum dalam pandangan mereka terhadap kedua yeojanya.
"aku telah menguasai dunia." Ujar mereka berbarengan.
Merekapun terkejut, lalu saling menatap satu sama lain, setelah itu tertawa bersama.
"kita telah menguasai dunia." Celetuk Kai akhirnya.
"nde, yeoja inilah yang membuatku mampu menguasai dunia sekarang." Luhan kembali mengelus rambut Daena.
"kau lebih lama menjadi werewolf daripada aku. Dan kurasa, kau yang pertama menguasai dunia."
Luhan terkekeh. "ani. Kau yang pertama. Aku ini baru bisa berbicara sekarang. Dan aku baru memiliki nama. Sementara kau, kau sudah lama berbicara dan memiliki nama dari eomma mu. Aku tidak pantas menjadi yang pertama. Aku masih pabo."
Kai juga terkekeh mendengarnya. "terserah kau saja."
Tak berapa lama, kedua yeoja itu membuka matanya berbarengan. Reaksi mereka berbeda begitu mengetahui siapa namja disamping mereka.
Daena
Daena mengalihkan pandangannya terhadap pemilik tangan yang mengelus rambutnya. Ia tersenyum dan berusaha bangkit. Dan namja itu membantunya. Daena menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut pirang itu.
"kau jenius Luhan-ah.. kau mau mendengarkanku rupanya.."
Luhan pun mengelus lagi rambut yeoja itu. "kau juga."
Daena pun terkejut namun ia senang mendengar suara itu.
"kau bisa bicara??"
"nde." jawab Luhan sambil membulatkan matanya.
Daena tidak mampu menahan rasa senangnya. Ia segera memeluk namja itu dan menangis haru.
"kau benar-benar jenius, Luhan-ah.."
Luhan tersenyum sambil memejamkan matanya. "saranghae…"
"nado.." Daena juga memejamkan matanya.

Ahra
Ahra kembali ketakutan begitu melihat wajah Kai. Ia duduk menjauhi namja itu.
"jangan dekati aku.." ujar Ahra saat ia bergerak menjauh.
Namun Kai malah mendekatinya.
"jangan jauhiku, Ahra-ya.."
"kau menakutkan!" teriak Ahra yang mulai berkaca-kaca.
Kai terdiam ditempat. "aku akan menjagamu. Meskipun aku sangat menakutkan, tapi hatiku, ingin bersamamu.."
Ahra berhenti bergerak. Setetes air mata mengalir dipipinya. Tak tau harus melakukan apa, ia hanya terdiam mematung dan menangis.
Kai berjalan mendekati yeoja itu. Ia pun duduk dihadapannya dan langsung memeluknya.
"jangan menangis. Kau adalah yeoja yang membuatku sanggup menguasai dunia. Saranghae.."
~~
2 tahun kemudian…
Semua yeoja melihat kagum pada seorang namja yang tengah menggandeng tangan seorang yeoja. Mereka berdua sebenarnya bukan artis, tapi wajah si namja benar-benar membuat para yeoja disana luluh. Namun namja itu seperti tidak mempedulikan. Ia mengeratkan genggamannya dan tersenyum pada yeoja disampingnya.
"kau yakin, ingin makan itu??" tanyanya.
Yeoja itu mengangguk sambil tersenyum. "aku yakin."
Namja tersebut tersenyum. Ia bukannya menghampiri pemilik kios itu, tapi malah menggerakkan tubuh yeojanya untuk menghadapnya. Ia menggenggam kedua tangan yeojanya lalu mencium kening yeoja cantik tersebut.
"akan ku lakukan semua yang kau mau, nyonya Daena." Ujarnya setelah ia mengecup kening yeoja itu.
Daena tersenyum simpul. "tentu saja, tuan Luhan. Kau tentu ingin yang terbaik bagi anak pertamamu."
~
Namja itu mengeratkan dasinya dan berjalan memasuki sebuah ruangan. Wajahnya terlihat bahagia sekarang. Meskipun bau obat-obatan sangat kuat menyengat hidungnya, tapi kegembiraannya tidak meluntur.
CKREK!
Ranjang itu dikerumuni banyak orang. Orang-orang itu ada para suster yang tengah membantu seseorang yang terbaring di ranjang tersebut.
Seorang suster menyadari kehadirannya. Ia pun tersenyum dan menyapa namja tersebut.
"annyeonghaseyo, Tuan Kim. Kabar baik untuk anda." Ujarnya ramah.
Namja itu tersenyum tidak percaya. Ia berjalan menghampiri sosok cantik yang sudah tidak dikerumuni orang. Sosok itu tengah memeluk sosok mungil.
Para suster berjalan meninggalkan ruang tersebut.
Namja itu tersenyum begitu ia duduk diujung ranjang. Dilihatnya yeoja yang tanpa make up dan rambut terurai, sangat cantik untuknya. Terlebih, senyum itu terukir saat mendengar rengekkan manis sosok mungil tersebut.
Si yeoja tersenyum. "dia tampan, seperti ayahnya, Kai."
"tapi dia sangat manis dan kulitnya putih, seperti ibunya, Ahra."
Ahra tersenyum mendengarnya. Ia mendapat sebuah kecupan hangat pada keningnya.
"saranghae.."
Ahra tersenyum. "nado."

End…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar